MASIGNASUKAv102
9150239939321897854

pena dan buku

pena dan buku
Add Comments
Senin, 14 April 2025

 


Sudah hampir 1 sks berlalu, Luis masih saja melirik ke arah teman satu kelasnya dari sudut ruangan. Hari lebih dingin dari biasanya mungkin karena ada dua unit AC yang baru saja diperbaiki.

Tiga semester lamanya Luis terhipnotis oleh sosok itu. Sulit baginya untuk berhenti melirik, bahkan sekadar memalingkan pandangan sebentar pun terasa mustahil.

Jessie.

Mahasiswi dari kampus negeri itu sejatinya biasa-biasa saja. Tak banyak hal istimewa yang bisa dibanggakan darinya. Bahkan ketika orang mendengar jurusannya, reaksi yang muncul seringkali hanya:
"Ngapain/buat apa?"

Ya, Jessie berkuliah di Jurusan Bahasa Indonesia.

Luis anak yang pintar, terutama pintar ngomong sewaktu presentasi tidak heran dia selalu mendapat ip diatas 3,9 tiap semesternya. Awalnya, Luis sama sekali tidak berniat memilih jurusan ini. Tapi segalanya berubah sejak pertemuan pertamanya dengan Jessie di kelas itu. Sekarang, ia merasa seperti orang paling beruntung di dunia.

Bagaimana tidak?

Selama empat semester, Luis tidak pernah absen sekalipun. Bukan karena materi kuliah yang menarik, tapi karena ia tak ingin melewatkan satu hari pun tanpa melihat outfit apa yang akan dikenakan Jessie hari itu.

Pertemuan mereka yaitu di hari pertama mata kuliah Sejarah Bahasa. Luis baru menyadari dia lupa membawa pulpen, ketika dosen meminta mereka mencatat. Dengan panik, matanya menyapu seluruh ruangan, mencari siapa pun yang mungkin bisa meminjamkannya.

"Ada yang punya pulpen cadangan?" bisiknya pada teman-teman cowok di sekitarnya. Tanggapan yang didapat hanya gelengan kepala dan anggukan penuh simpati.

Dengan malu-malu, Luis akhirnya menoleh ke bangku di depannya. Seorang cewek dengan kerudung hitam pekat tanpa banyak bicara mengulurkan pulpen merah muda.

"Makasih," ucap Luis sambil menyunggingkan senyum tipis.

Saat itu, Luis tak tahu namanya. Tapi Jessie tahu, di detik itu juga, dia takkan pernah lupa dengan senyum pemuda bermata teduh itu.

Semester itu berjalan, dan suatu pola aneh mulai terlihat. Dari sekian banyak mahasiswa di kelas, Luis dan Jessie selalu terjebak dalam satu kelompok, untuk tugas-tugas kuliah. Awalnya Luis menganggap ini sekadar kebetulan.

Sampai suatu hari, ia melihat Jessie dengan cepat berpindah tempat duduk saat dosen mengumumkan pembagian kelompok langsung ke meja yang kosong di sebelah Luis.

"Kebetulan lagi?" tanya Luis, setengah bercanda.

Jessie tersipu, menatap laptopnya dengan sengaja.
"Ya... kebetulan."

Tapi senyuman nakal di sudut bibirnya mengatakan hal yang berbeda.

Setelah sekian lama berkenalan, hubungan mereka akhirnya resmi. Dukungan dari teman-teman sekelas mengalir deras, meski gaya pacaran Luis dan Jessie terbilang unik lebih banyak sembunyi-sembunyi, masih malu-malu, seperti dua anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.

Satu tahun berlalu dalam kebahagiaan yang mereka pikir tak akan pernah usai.

Hingga suatu pagi, tanpa tanda-tanda sebelumnya, notifikasi WhatsApp di ponsel Luis berderet panjang. Long text.

Luis yang baru terbangun dengan kepekaan romantis setipis tisu masih mengucek mata ketika membacanya. Pesan itu berisi kata-kata yang tiba-tiba membuatnya nyesek:

"Aku enggak bisa lanjutin lagi, Luis. Maaf." Ucap jessie dalam pesannya

Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada diskusi. Hanya beberapa paragraf dingin yang mengakhiri segalanya.

Luis membeku.

Jessie, orang yang paling spesial dalam hidupnya baru saja memutuskan hubungan mereka lewat chat. Di pagi hari. Seolah setahun bersama hanya pantas diakhiri dengan notifikasi di layar ponsel.

Rasanya seperti ditampar, tapi lukanya tidak terlihat.

Dia mencoba menelepon, tapi nomor Jessie sudah tidak bisa dihubungi.

Tidak adil rasanya bagi Luis.

Dia harus merasakan patah hati ini seorang diri, sementara Jessie mungkin sudah melupakannya. Perlahan tapi pasti, seiring berjalannya waktu, Luis mulai memahami satu kebenaran pahit:

Semua perempuan memang akan berubah pada waktunya.

Mereka bisa saja kehilangan rasa antusiasme itu, rasa berdebar-debar, mata yang berbinar, dan getaran bahagia yang dulu selalu terlihat jelas. Padahal sudah sekian lama bersama, sudah melewati begitu banyak kenangan.

Di matanya sekarang, Jessie bukan lagi perempuan yang dulu dia kenal. Bukan lagi sosok yang dengan sabar menunggunya di depan gedung fakultas setiap jam istirahat. Bukan lagi gadis yang matanya selalu berbinar saat menceritakan buku favoritnya.

Jessie yang sekarang adalah orang asing.

Wajahnya sama, tapi cahayanya sudah berbeda.

Suaranya serupa, tapi hangatnya tak lagi sampai ke hati.

Dan Luis? Dia hanya bisa berdiri di tepian, menyaksikan perubahan itu terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa.

Hari demi hari, Luis menjalani kuliah dengan keadaan hati yang masih terasa berat. Kampus yang dulu terasa penuh warna kini seakan kelabu seperti langit mendung yang tak kunjung hujan. Teman-temannya mungkin tak menyadari, tapi senyumannya kini lebih tipis, dan tawanya tak lagi selepas dulu lagi.

Jessie masih sesekali muncul di beberapa medsosnya, tapi setiap foto atau story-nya seperti pisau kecil yang mengingatkannya: "Dia sudah bukan orang yang sama." Yang dulu membuatnya bersemangat pagi-pagi hanya untuk mengirim pesan "selamat pagi", kini bahkan tak membalas ketika Luis bertanya kabar.

Suatu sore, di tengah keramaian kantin kampus, Luis memandang sepasang kekasih yang sedang berbagi makanan sambil tertawa. Dahulu, ia dan Jessie juga begitu. Tapi sekarang, yang tersisa hanya pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab:
"Apa yang salah? Apa yang berubah? Atau... memang begini jalannya?"

Dia menarik napas dalam, mencoba menata ulang hancurannya. Mungkin, patah hati bukan akhir tapi awal untuk mengenal diri lagi.

Kuliah pagi itu hujan gerimis. Luis berdiri di halte kampus, menunggu bus sambil memainkan ujung jaketnya yang sudah mulai basah. Pikirannya masih berkabut, sampai tiba-tiba—

"Eh, tasmu kebuka."

Suara perempuan di sebelahnya membuatnya terkejut. Luis menoleh dan melihat seorang gadis dengan kacamata dan hoodie biru yang kebesaran itu mengacungkan sebuah buku yang hampir jatuh dari tasnya. "Angan tentangnya" judul buku itu, novel yang pernah Jessie rekomendasikan padanya dulu.

"Makasih," balas luis singkat, mencoba tak terlihat tenggelam dalam kenangan.

"Kamu suka buku ini?" tanya perempuan itu, matanya berbinar. "Aku baru saja beli, tapi belum sempat baca."

Luis menghela napas. "Dulu suka. Sekarang... agak sedih kalo baca."

Perempuan itu terkejut. "ouh maaf maaf aku gak tau, tapi kayaknya kamu lagi gak baik baik aja ya. Aku Mira, kebetulan jurusan Psikologi."

Hujan semakin deras, tapi untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Luis merasa sesuatu yang asing yaitu “kehangatan.”

Mira ternyata sering muncul di hari-hari Luis setelah pertemuan di halte itu. Awalnya sekadar kebetulan kantin yang sama, perpustakaan dengan meja favorit yang berdekatan, bahkan sekali waktu mereka ketemu di kedai kopi dekat kampus, tempat Luis dulu sering kencan dengan Jessie.

Mira ternyata bukan sekadar orang yang baik. Di balik senyumannya yang hangat, ia punya cara berpikir yang tajam seperti pisau tumpul yang justru bisa mengupas kebenaran tanpa melukai.

"Jadi, menurutmu perubahan itu selalu buruk?" tanyanya suatu hari, saat mereka duduk di pojok perpustakaan kampus. Luis mengernyit.

"Kalau itu membuat seseorang jadi dingin dan acuh, aku rasa jawabanya iya."

Mira memainkan gelang kayu di pergelangannya. "Atau mungkin... kita hanya melihatnya dari sudut yang sempit. Manusia itu seperti sungai, Luis. Airnya terus mengalir, bentuknya berubah, tapi esensinya tetap H₂O."

Luis tertegun. "Jessie dulu—"

"Bukan tentang Jessie," potong Mira lembut. "Ini tentangmu. Kamu terjebak membandingkan Jessie yang dulu dan sekarang, tapi lupa bahwa Luis yang sekarang juga bukan Luis yang dulu."

Udara di antara mereka mendadak terasa jernih.

Mira memang tidak menggantikan jessie, namun bisa lebih dari menggantikan jessie. Mungkin hanya itu yang dibutuhkan luis saat ini.

Beberapa bulan kemudian, hujan kembali turun di kampus tapi kali ini, Luis tidak lagi berdiri sendirian.

Mira menyandang tas berisi buku-buku bekas yang baru mereka beli di bazar kampus, sambil tertawa karena Luis salah sebut judul novel favoritnya. "Dasar nggak pernah serius!"

"Aku serius kok," bantah Luis, tiba-tiba diam. Mira menoleh, menemukan matanya yang tenang. "Aku serius berterima kasih... karena kamu nggak cuma membantuku move on, tapi juga menemani aku mengenal diriku lagi."

Mira tersipu, main-main memukul bahunya. "Jangan lebay! Aku cuma suka ngobrol sama orang yang bacaanya nggak cuman caption Instagram."

Tapi Luis tahu, di balik candaannya, Mira adalah tempat yang membuatnya mengerti bahwa cinta tak selalu harus romantis. Kadang, cinta itu ada dalam cara seseorang mendengarkan tanpa menghakimi, dalam tawa yang tidak pernah memaksa, dalam kesabaran yang memberinya ruang untuk tumbuh.

sekeping narasi

hanya mas mas biasa yang suka ngopi terus ngeluarin semua isi kepalanya dari tiap sentuhannya di atas keyboard didepan laptop

  1. Habistu datang indra & abellio ingin menguasai sky arena dengan kombinasi 2 elemen yang menggemparkan seluruh penonton...

    YA inilah SUMMONERS WAR SKY ARENA !!!

    BalasHapus